FotoDokuJurnalisme®

Anda sudah pernah mendengar istilah di atas?
Istilah FotoDokuJurnalisme ini baru kami kenal pertama kali sekitar 3 minggu lalu, dari Pak Dedi H. Purwadi (mantan wartawan yang sekarang menjadi trainer jurnalisme di LP3Y). Beliau menggunakannya untuk mewakili pengertian mengenai fotografi dokumentasi dengan pendekatan jurnalisme. Tema inilah yang menjadi perbincangan pada Jumat sore, 17 Juli 2009 lalu. Berikut adalah riviu singkat dari materi yang disampaikan Pak Dedi pada kegiatan tersebut.

Teknologi telah sangat memudahkan kita dalam banyak segi, diantaranya di bidang arsip dan dokumentasi. Kita tak perlu lagi menulis/melukis di dinding gua untuk mengabadikan suatu kegiatan yang nantinya akan menjadi referensi anak cucu maupun publik. Ada komputer, perekam suara, dan kamera yang bisa merekam ribuan kata, gambar dan suara, untuk ditayangkan dimana saja dan kapan saja.

Era teknologi kamera digital memungkinkan kita ‘ceprat-cepret’ merekam ratusan gambar untuk suatu kegiatan yang berlangsung 2-3 jam saja. Gambar atau foto yang cenderung enak dinikmati secara serial atau berurutan. Namun untuk keperluan publikasi dan pemberian informasi (berkabar), bagaimanapun kita harus berhadapan dengan ruang yang terbatas sehingga hanya dapat menampilkan 1-3 dari ratusan gambar yang ada. Nah, ini dia, ternyata tidak mudah mendapatkan beberapa gambar foto yang bisa bercerita banyak tentang kegiatan tersebut. Ya, di sinilah letak pentingnya pendekatan jurnalisme dalam fotografi dokumentasi.

FotoDokuJurnalisme setidaknya menuntut seorang dokumentator menggunakan 2 gaya berpikir, ala jurnalis dan fotografer. Akan lebih baik lagi jika ia juga dapat berpikir ala editor dan desainer, mengingat foto seringkali dijadikan sebagai materi desain seperti poster dan lainnya.

1. Berpikir sebagai jurnalis (wartawan)
Seorang wartawan akan selalu berpegang pada prinsip dasar jurnalistik untuk menyampaikan 5W + H (What, Who, Where, When, Why, & How = apa, siapa, dimana, kapan, mengapa dan bagaimana) dari suatu peristiwa. Rumusan tersebut menggambarkan pesan yang akan disampaikan kepada publik, dan rupanya bukan hanya menjadi pegangan untuk menulis, tapi juga untuk membuat foto. Dengan foto, seorang jurnalis menyampaikan pesan secara visual.

2. Berpikir sebagai fotografer
Cara berpikir ini berkenaan dengan kemampuan melihat objek/peristiwa dalam komposisi yang bagus, dan kemampuan teknis lainnya seperti penguasaan kamera, pencahayaan, speed, framing, dan sebagainya.

Seorang fotodokujurnalis (baca: dokumentator) ketika melaksanakan tugas, hendaknya mengedepankan tujuan pemotretan dan ¬pesan yang ingin disampaikan dari jepretannya, sebelum memikirkan masalah teknis fotografi. Prinsip ini terutama berlaku jika menangkap momen atau kejadian yang langka, singkat, dan kemungkinan tidak terulang lagi. Bobot pesan di sini akan lebih dihargai meskipun kualitas artistik fotonya kurang optimal.

Meski demikian tidak berarti fotodokujurnalisme menutup kesempatan membuat foto yang indah. Ada kok ruang untuk bereksplorasi secara artistik, yaitu pada sesi kegiatan yang cenderung berulang, dan berlangsung lama. Contoh yang diberikan Pak Dedi adalah pada kegiatan pelatihan menganyam keranjang dari rotan. Kegiatan seperti ini biasanya berlangsung sehari atau lebih, karena menekankan pada praktek, dan cenderung menunjukan perbuatan yang monoton. Pelaku akan berkonsentrasi pada jalinan rotannya dari waktu ke waktu sehingga memungkinkan dokumentator memikirkan angle (sudut pengambilan gambar), pencahayaan, dan lainnya.

Yang Perlu Diketahui dan Dipersiapkan Sebelum Membuat Foto Dokumentasi
1. Tujuan Pemotretan
Foto-foto ini akan digunakan untuk apa, dan apa pesan yang ingin disampaikan.

2. Ketahui Konteks Kegiatan
Pemahaman terhadap konteks kegiatan akan menajamkan perspektif dokumentator dalam menangkap momen-momen yang khusus. Misalnya mendokumentasikan kegiatan pertemuan warga dalam konteks kesetaraan gender, maka memfoto seorang ibu yang tunjuk jari dan menyampaikan usulannya pada forum yang didominasi bapak-bapak, menjadi sangat penting dan berharga.

3. Ketahui urutan acara dan perkiraan waktu dan tempat
Pengenalan terhadap hal tersebut akan membantu dokumentator membuat skenario cerita dokumentasi, mengenali orang atau pihak yang penting untuk diambil gambarnya, dan terutama untuk menyajikan 5W + H dalam foto-fotonya. Dokumentator juga dapat memperkirakan sudut pengambilan gambar melalui pengenalan berbagai tempat. Berkaitan pula dengan persiapan peralatan seperti baterai dan memori data (digital).

4. Kenali perangkat fotografi yang digunakan
Menyangkut fasilitas (fitur-fitur yang disediakan), kesiapan, kelengkapan, dan kelemahan (misal, kamera kurang bagus untuk pengambilan gambar di luar ruangan).

5. Kenali situasi secara cepat dan segera menyesuaikan
Ini menyangkut orang dan interaksi antar mereka, diperlukan untuk mendapatkan gambaran suasana yang akan atau sedang berlangsung.

6. Dokumentator perlu membiasakan kehadiran dirinya sebagai fotografer pada lingkungan sosial kegiatan
Biasanya orang akan merasa kurang nyaman, waspada atau bahkan curiga ketika dipotret oleh orang yang tidak dikenalnya, tanpa dinyana-nyana pula. Seringkali orang juga memanipulasi perilaku dan ekspresinya (jaim = jaga imej) jika berhadapan dengan fotografer dan kamera.

7. Lepaskan ‘kaca mata’
Dokumentator perlu melepaskan diri dari jebakan perspektif atau sudut pandang dirinya agar dapat melihat situasi kegiatan secara luas dan terbuka, bukan hanya memotret yang menarik bagi diri sendiri melainkan memotret sesuatu yang penting dan menarik dari kaca mata publik. Penilaian ‘bagus dan menarik’ biasanya berasal dari kaca mata pribadi sehingga cenderung subjektif, sedangkan penilaian ‘penting’ lebih mendasarkan dari sisi orang lain sehingga lebih objektif.

Beberapa foto, seringkali sudah dapat bercerita banyak melalui apa yang tertampil di dalamnya. Biasanya terdapat spanduk atau backdrop yang menampilkan judul acara, tanggal dan lokasi yang dapat digunakan sebagai latar belakang foto. Namun beberapa foto terkadang membutuhkan caption atau keterangan singkat untuk menguatkan pesan visualnya. Untuk hal ini, dokumentator perlu membuat catatan di tempat agar informasi-informasi yang dibutuhkan untuk melengkapi foto tersebut tidak hilang dalam kenangan.

Tulisan ini merupakan intisari dari materi padat yang disampaikan oleh nara sumber, karenanya barangkali ada informasi penting yang terlewatkan. Mohon bantuan teman-teman yang hadir pada acara tersebut untuk menambahkannya di forum ini. Terima kasih, semoga bermanfaat. (admin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>