Home Sweet Home ~ Rumahku Istanaku

Satu tahun berlalu sejak gempa tektonik skala besar mengguncang Yogya – Klaten dan sekitarnya. Satu tahun telah berlalu pula sejak Gunung Merapi ‘muntah’ dengan dahsyatnya…, dan lumpur panas menyembur pertama kali dari lubang pemboran LAPINDO. Sementara itu, angin puting beliung telah beberapa kali memporak-porandakan rumah penduduk. Belum lagi banjir dan bencana-bencana lain… .

Masih lekat dalam ingatan kita, aura kesedihan yang menggelombang tatkala peristiwa-peristiwa tersebut berlangsung. Kesedihan timbul karena keadaan darurat yang serba terbatas. Keharusan untuk mengungsi dan menyelamatkan diri, merawat sanak keluarga yang sakit atau bahkan mencari keberadaannya. Aktivitas sehari-hari tak dapat dilakukan seperti biasanya. Banyak orang kehilangan mata pencahariannya, sementara harta yang tersisa pun tidak dapat menyokong biaya hidup untuk waktu yang lama.
Jika dipetakan, kesemua hal di atas akan berujung pada satu hal pokok, yaitu rumah.
Rumah bukan sekedar susunan batu bata atau kayu dengan atap. Rumah bukan sekedar tempat bernaung dari air hujan dan panas matahari. Pada kenyataannya rumah adalah satu simbol yang mewakili banyak makna. Selain dari wujud fisiknya, rumah ternyata dapat dilihat juga sebagai bangunan psikis.
Tulisan singkat ini akan mencoba menggali satu persatu apa dan bagaimana yang dimaksud dengan rumah sebagai bangunan psikis ini. Mungkin dengan begitu akan membuat kita lebih memahami kesedihan saudara-saudara kita yang kehilangan rumah. Mungkin kita juga akan jadi lebih menyadari seperti apa ‘rumah’ kita masing-masing.

Rumahku istanaku
Kita sering mendengar ungkapan tersebut, yang artinya adalah tidak ada tempat yang paling nyaman selain rumahku. Dalam ungkapan tersebut terkesan bahwa bentuk fisik rumah tidaklah begitu penting. Rumah besar–kecil, mewah–sederhana, berdinding kayu atau tembok, berpekarangan atau saling menempel dengan dinding tetangga, semuanya tidak dapat mencemari kata istana yang identik dengan kesan indah dan sempurna.

Rumah dan sejarah hidup
Rumah adalah tempat kita berkumpul bersama keluarga, bersama orang-orang yang kita cintai dan yang mencintai kita. Rumah seringkali merupakan tempat kita atau anak-anak kita lahir, tumbuh besar dan dewasa. Rumah tak ubahnya album foto atau catatan harian yang menyimpan banyak kenangan atas berbagai peristiwa yang terjadi di dalamnya. Apalagi jika rumah tersebut adalah rumah yang diwarisi secara turun temurun dari nenek moyang.
Siapa yang tahu bahwa ternyata pintu depan, buatan tangan kakek, yang berhasil membuat nonong (benjolan) di kepala Upik kecil. Atau kaca jendela ruang keluarga yang bolong seperempat karena Upik saking gembiranya keliru melempar toga dengan patung wisuda!

Rumah adalah simbol perjuangan hidup
Rumah dengan segala bentuk dan isinya juga merupakan simbol perjuangan penghuni/pemiliknya. Mulai dari membangun pondasi, melengkapi bagian pagar, menambah bagian yang lainnya lagi, kemudian mengisinya dengan benda-benda pelengkap kebutuhan kita seperti lemari, kursi, televisi, kulkas dan lainnya. Aktivitas menambah dan melengkapi ini seiring sejalan dengan naik-turunnya kualitas kehidupan keluarga kita.

Rumah adalah budaya kita
Ukuran, bentuk, dan gaya rumah kita selain dipengaruhi oleh kemampuan ekonomi dipengaruhi juga oleh lokasi tempat bangunan itu didirikan. Hal ini berkaitan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan budaya. Sering sekali pembangunan maupun pengisian rumah dipengaruhi oleh norma-norma budaya yang ada di sekitar kita. Misalnya saja letak kamar mandi Jawa yang harus ada di bagian belakang. Termasuk banyaknya penggunaan kayu pada rumah daerah pegunungan karena mampu menyimpan hawa hangat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa rumah, adalah wujud dari kemampuan kita untuk selaras dengan lingkungan di sekitar kita. Selaras dari sisi ide, impian, dan cita-cita bersama.

Memahami beberapa makna rumah, setidaknya kita bisa memahami bahwa kehilangan rumah bukan semata-mata kehilangan bentuk fisik sebuah rumah, susunan batu bata dan kayu. Lebih jauh lagi, kehilangan rumah bisa berarti kehilangan rasa aman, rasa kebersamaan, rasa cinta, rasa memiliki dan dimiliki. Kehilangan rumah bisa berarti tercerabutnya akar-akar psikologis seseorang dari tempatnya yang mapan.
Maka dapat dibayangkan bagaimana perasaan Saudara-Saudara kita yang digusur dari rumah yang ditinggalinya selama puluhan tahun. Di sisi lain, tergambar pula mengapa para warga sekitar sungai enggan pindah meski setiap tahun rumahnya terlanda banjir. Selain pertimbangan akan tidak adanya tempat lain untuk pindah, tentu saja. Apalagi bagi warga korban lumpur panas Lapindo. Jikalau warga korban gempa masih dapat membangun kembali rumah di atas tanahnya dulu, sesederhana apapun itu, tidak begitu halnya bagi mereka. Tidak ada lagi tanah untuk ditanami pondasi, bahkan untuk mendapatkan ganti rugi pun butuh perjuangan yang masih panjang. Relokasi ke pulau lain rasanya belum kan menimbulkan masalah sosial dalam bentuk lain. Warga (lapindo ki daerah pastine apa, sih?) bukan kelompok masyarakat berbasis pada pertanian, yang artinya kondisinya tidak dapat disamakan dengan kondisi peserta program transmigrasi jaman dulu.

Dalam kehidupan kita, mungkin akan beberapa kali mengalami perpindahan rumah. Pindah rumah, sekalipun itu direncanakan, kadang bukan hal yang mudah. Meski begitu, kondisinya pasti akan jauh lebih baik dibanding pindah rumah dalam kondisi terpaksa seperti para warga korban lumpur Lapindo atau warga tergusur lainnya. Nah, konsep rumah psikologis bagi seseorang atau keluarga tertentu pada umumnya akan tetap meskipun secara fisik bangunan rumah berpindah dan kondisinya berbeda jauh. Bagaimana ini terjadi?
Dari banyak uraian di atas, kita mendapat gambaran bahwa rumah yang baik bagi seseorang terkadang bukan berarti rumah yang besar dengan fasilitas yang lengkap, terletak di pinggir jalan atau di kaki bukit, dengan segala atribut fisik lainnya. Tapi bahkan rumah biasa pun dapat jadi idaman dan disebut rumah yang indah secara psikologis, ketika berhasil memiliki beberapa kriteria berikut ini:
? memberi rasa aman bagi setiap anggota keluarga
? nyaman untuk beristirahat, sehingga energi negatif bisa terbaharui menjadi energi positif
? mampu membuat penghuninya merasa menjadi diri sendiri
? menyediakan suasana yang kondusif untuk berkomunikasi antar anggota keluarga
? memberi ruang/peluang bagi penghuninya dalam mengekspresikan diri, mengontrol benda, ruang, dan membuat keputusan. Keleluasaan ini membuat penghuni merasa punya otonomi yang lebih luas dibanding otonomi ketika ia berada di tempat lain atau pada situasi yang lain
? mengakomodasi kebutuhan pribadi seperti merenung, atau kebebasan tertentu seperti melakukan hobi bertanam, memelihara binatang, dan sebagainya
Kondisi ideal ini memang sulit dicapai meski tidak mustahil. Namun perlu dicatat pula disini bahwa untuk menjadi sebuah rumah yang indah secara psikologis, perlu pula diikuti beberapa persyaratan rumah yang indah dari sisi kesehatan. Rumah yang kurang sehat jelas akan berpengaruh pada kondisi mental atau psikis penghuninya sehingga mempersulit tercapainya kriteria-kriteria di atas. Setidaknya ada beberapa syarat minimal rumah sehat yang harus dipenuhi, misal: peredaran udara yang lancar dan merata, pencahayaan yang cukup, lebih bagus lagi pencahayaan alami yang cukup, tersedianya air bersih, dan sistem pembuangan yang higienis.

Jadi, apa yang dapat Anda ceritakan tentang rumah Anda?

(titis)

Beberapa materi dikembangkan dari:
Sukada, Budi A. 1983. Rumahku dan rumahmu. Bandung: Penerbit Bina Budhaya-Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>