Berdemokrasi di Angkringan

Di salah satu ruang publik di Jogja, terdapat papan yang setiap hari ditempeli surat kabar harian, yang di sebelahnya juga terdapat papan pengumuman, namun sangat sedikit orang yang menyempatkan waktu untuk berhenti dan membacanya. Para warga lebih suka mengobrol, menggosip, dan membicarakan berita atau acara-acara TV yang sedang hangat di  “Angkringan Pak Wet” daripada membaca berita harian tersebut. Dengan membeli  teh dan  gorengan, mereka mendapatkan informasi terhangat di sana. Angkringan itu juga buka sampai pukul 24.00 WIB. Pak Wet seorang yang punya angkringan permanen di depan teras rumahnya sehingga para pengunjung angkringan dapat duduk di depan teras rumah beralas tikar.

Begitu pula dengan salah seorang ibu asal Wonosari yang berjualan angkringan di sebelah utara gereja Bintaran dan di sekitarnya terdapat asrama mahasiswa dari beberapa  daerah di Indonesia. Ibu ini menggelar dagangan mulai pukul 17.00 sampai 24.00 WIB. Selain sebagai ajang ngobrol dan menggosip, di warung itu juga disediakan tikar bagi yang ingin ngobrol di atas trotoar. Suami Ibu ini juga membuka angkringan di pertigaan sebelah utara rumah joglo kurang lebih 50 m dari angkringan istrinya. Suami istri ini membuka dagangan yang sama, jika dagangan di warung Si Istri habis, dia  mengambil dagangan di warung suaminya.

Berbeda dengan kedua penjual angkringan di atas, Lik Man, seorang tukang mewarnai batik di kelompok batiknya. Jika orderan sepi dia mengisi waktu luang tersebut dengan membuka angkringan di Jogja meskipun aslinya Wonosari. Nanti jika waktunya mencelup atau mewarnai tiba, dia berhenti berjualan dan mewarnai batik lagi. Jadi Lik Man hanya membuka warung angkringannya selama dua minggu, dan dua minggu sesudahnya dia manfaatkan untuk mewarna batik kelompok di rumahnya.

Dari ketiga penjual angkringan ini dapat dilihat bahwa salah satu cara untuk mencukupi angkringankebutuhan rumah tangga mereka adalah dengan membuka usaha warung angkringan. Dari sudut pandang ekonomi, warung angkringan ini merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli. Selain menambah penghasilan penjualnya, warung angkringan ini juga menambah penghasilan beberapa keluarga di sekitar warung yang menitipkan dagangannya di angkringan tersebut. Jika dagangan mereka laku dan habis, mereka akan mendapatkan keuntungan. Warung angkringan ini menarik untuk diperhatikan sebab di Jogja yang notabene  banyak rumah makan, warung-warung gaul, serta kedai-kedai kopi, juga warung burjo yang buka 24 jam, namun warung  angkringan di kota ini tetap eksis. Bagaimana warung angkringan ini tetap eksis ditengah persaingan pasar yang ketat dengan para penjual lain?

Warung Angkringan Sebagai Ruang Publik

Di tengah maraknya pembangunan dan banyaknya perumahan yang didirikan membuat lahan di kota Jogja menjadi semakin sempit. Beberapa wilayah yang sepuluh tahun yang lalu masih merupakan persawahan, sekarang sudah berubah menjadi perumahan. Begitu pula lahan-lahan tanah yang agak lapang di dalam perkampungan, dimana dulunya dipakai anak-anak bermain juga sudah banyak dibangun rumah. Tanah menjadi sempit dan jumlahnya sedikit sehingga tanah di perkotaan menjadi mahal karena menjadi barang langka. Setiap ruang di kota dimanfaatkan untuk akses ekonomi tak kecuali emperan rumah, trotoar, dan gardu ronda. Gardu ronda ada yang disewakan. Bagi mereka yang punya modal kecil, warung angkringan adalah pilihan.

Jika diperhatikan lagi, mereka yang jajan di warung angkringan tidak sekedar jajan lalu pulang. Para pembeli di situ dapat dikatakan adalah pelanggan tetap yang jika ingin bersantai dan ngobrol mereka akan  mengunjungi warung tersebut. Sebagai contoh, Anjar, Doni, Bejo, Waldi, Akur, dan Joshua merupakan anggota suatu komunitas. Komunitas ini berkegiatan setiap Hari Selasa di Gereja Bintaran. Setelah melakukan kegiatan formal di gereja, mereka akan mampir di warung angkringan sebelah utara gereja yang sudah menjadi langganan mereka.

Sembari minum teh jahe, susu, ataupun teh hangat dengan berbagai menu lain seperti nasi kucing, gorengan, sate usus, dan ceker yang menjadi menu khas suatu warung angkringan yang juga beratap terpal warna biru atau oranye, mereka ngobrol dengan bebas tanpa topik yang jelas. Apa yang mereka rasakan dan pikirkan dan biasanya masalah berita hangat yang baru jadi tren, mereka diskusikan tanpa ada ancaman dari pihak luar. Di warung itu mereka bebas berpendapat baik salah atau benar yang penting rasionalitas yang menentukan. Bahkan kadang-kadang penjualnya juka ikut nimbrung memberikan pendapat. Dari obrolan dan diskusi itu biasanya akan menghasilkan kesepakatan tertentu diantara mereka yang dianggap paling baik dan akan mereka laksanakan selama seminggu tidak bertemu. Kemudian Hari Selasa minggu depan mereka akan bertemu dan berdiskusi di tempat yang sama membicarakan perkembangan dari kesepakatan yang sudah mereka sepakati minggu kemarin dengan penghambat dan pendukung yang dialami masing-masing.

Dalam hal-hal seperti itu Jurgen Habermas menyebutnya sebagai ruang publik politis. Maka itu, sebuah ruang publik politis tidak lain daripada hakikat kondisi-kondisi komunikasi yang dengannya sebuah formasi opini dan aspirasi diskursif. Sebuah publik yang terdiri dari para warganegara  dapat berlangsung. Menurut kutipan ini Habermas memahami ruang publik politis sebagai prosedur komunikasi. Ruang publik itu memungkinkan  para warga negara untuk bebas memilih sikap mereka, karena ruang_public itu menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan para warga negara untuk menggunakan kekuatan publik. Ruang publik politis itu sebagai kondisi-kondisi komunikasi bukanlah institusi dan juga bukan organisasi dengan keanggotaan tertentu dan aturan-atauran yang mengikat. Dari istilah itu sendiri orang sudah dapat  mengenali publik informal dan inklusifnya.

Sehingga tidak mengherankan jika di warung-warung angkringan para warga negara ini berargumen sesuka mereka. Bahkan di tempat itu mereka yang berbeda keyakinan, agama, status duduk setara membicarakan sesuatu obrolan yang mereka senangi tanpa khawatir akan ada pihak yang mengintimidasi atau mengancam. Warung angkringan menghilangkan sekat yang belum tentu di tempat lain bisa terjadi.

Jasa Warung Angkringan Bagi Demokrasi

Secara idealnya demokrasi itu berjalan jika kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat. Hukum demokrasi klasik ini saat ini menjadi tidak mudah karena masyarakat sekarang sangat kompleks dan terglobalisasi. Wujud ideal demokrasi publik akan semakin mendekati tujuannya jika aspirasi-aspirasi minoritas juga diperhatikan. Aspirasi mayoritas seharusnya tidak meniadakan atau membisukan aspirasi minoritas ini. Dengan banyaknya ruang-ruang publik yang mengutamakan rasionalitas yang sehat  maka saluran aspirasi kaum minoritas juga punya hak dan kewajiban yang sama sebagai  warganegara dan juga rakyat.

Eksisnya warung angkringan di Jogja tidak hanya karena pelaku ekonomi yang jelas membantu perekonomian para pelaku ekonomi yang punya modal kecil, tetapi juga menjadi wadah dan ruang publik dari saluran aspirasi mereka. Jasa warung angkringan di Jogja sangat besar bagi jalannya roda demokrasi di kota ini. Selain itu kadang inspirasi atau gagasan juga muncul dari hasil-hasil diskusi di warung-warung angkringan.

Tak luput TVRI Jogja pun memanfaatkan ikon ini untuk menyampaikan pesan mereka lewat acara “Warung Angkring” yang ditayangkan setiap hari Sabtu dimana tokoh-tokohnya adalah para pelawak yang akhirnya ngetop berkat tampil dalam acara itu seperti Wisban, Yu Beruk, Dalijo, Gareng, dan Jonet.

Kiranya warung angkring tidak kita lupakan akan jasanya yang besar bagi jalannya demokrasi di Kota Jogja sebagai salah satu ruang publik. Hal ini pulalah yang membuat mereka menjadi ikon tersendiri di Jogja. Sehingga meskipun gempuran dan persaingan berdirinya warung-warung lain kiranya tidak akan menyurutkan warung angkring yang sudah punya pangsa pasar tersendiri dan ikon unik itu.

*G.S. Agung Kurniawan (Pegiat Ethnographer Community)

foto angkring dikutip dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>