Masturbasi, Kebutuhan akan Relasi, dan Terpisahnya Seks dengan Cinta:
Perspektif Psikologis dan Filosofis terhadap Bertumbuhnya Toko-Toko Sex Toys di Yogyakarta
_____________________________________________________
“Bahkan, sekalipun aku mendapat apa yang kuinginkan, itu bukan yang kuinginkan.”
Inside Out, Larry Crabb
Sebelum abad ke-19, perilaku seks dipandang sebagai hal yang religius atau spiritual. Namun sejak tahun 1800an, seksualitas dan perilaku seksual menjadi fokus studi ilmiah. Seks kemudian dipandang sebagai fungsi biologis, sama seperti makan dan minum.
Selama abad ke-19, lebih banyak lagi tulisan mengenai perilaku seksual. Terjadi pengembangan kriteria perilaku seksual normal dan tidak normal, seperti masturbasi yang dianggap normal dan homoseksual dianggap tidak normal. Hal ini ditunjukkan oleh bertumbuhnya moralitas seksual Victorian yang menekankan kemurnian dan berusaha menekan prostitusi. Seks kemudian dipandang sebagai dorongan biologis yang perlu diekspresikan, namun hanya untuk menyatakan fungsi utamanya, yaitu reproduksi.
Sejak abad ke-20, terjadi perubahan sudut pandang. Meski seks masih dianggap bersifat biologis, kini penekanannya lebih pada aktivitas seksual dan kenikmatan daripada hasilnya (reproduksi). Tiga penelitian masif terhadap masyarakat berkulit putih oleh Kinsey, Master & Johnson, dan Hite dalam Ogden (2007) menyatakan bahwa pandangan masyarakat Barat terhadap seks kini lebih merupakan sarana untuk mendapatkan kenikmatan daripada reproduksi ataupun relasi. Penelitian ini didukung oleh Susabda (1983) yang menulis bahwa kini banyak orang beraktivitas seksual bukan oleh karena kebutuhan seksualnya yang besar dan tidak dapat terbendung lagi, tetapi karena mereka memandang seks sebagai pengganti sarana untuk mendapatkan kepuasan primer. Lebih lanjut, seks menurutnya memang menjanjikan suatu kepuasan instan yang dapat dinikmati dengan mudah dan cepat.
Friedman & Schustack (2008) menulis bahwa anak laki-laki dan kaum pria belajar secara budaya untuk menekankan aspek seks yang bersifat fisik dan superfisial. Pria dipandang memiliki dorongan seks yang lebih besar, lebih mudah terangsang, dan secara seksual lebih agresif. Meski kenyataannya ternyata wanita juga memiliki dorongan seksual yang sama besar, proses belajar sosial itu telah membuat pria lebih terbuka serta tidak lagi canggung dengan masturbasi dan seks. Dengan kata lain, masturbasi pria saat ini dipandang sebagai hal yang seharusnya, sebab “semua pria butuh menyalurkan hasratnya.”
Fenomena berkembangnya toko-toko yang menjual alat bantu masturbasi atau sex toys pada di Amerika dan Cina merupakan indikasi langsung dari bertumbuhnya penekanan terhadap kepuasan dan penyaluran hasrat seksual daripada reproduksi maupun perwujudan keintiman relasi. Tidak hanya di dua negara tersebut, sekarang pun banyak barang serupa telah masuk ke Indonesia dan dijual secara terbatas di toko-toko kecil di Yogyakarta yang juga menjual obat kuat, pelangsing, atau peninggi badan. Apakah Indonesia juga sedang bergeser ke arah reduksi makna seks itu?
Mungkinkah fenomena tersebut merupakan puncak gunung es dari suatu hal yang tidak kasat mata? Penulis menduga bahwa fenomena toko seks muncul karena semakin banyak orang yang melakukan seks secara soliter, bahkan sampai kecanduan seks, sehingga mereka mulai membeli alat bantu masturbasi yang dijual bebas tersebut. Kita tahu bahwa masturbasi hampir tidak bisa dilakukan tanpa melibatkan fantasi.
Analisis Psikologis: Gagalnya Relasi
Kecanduan adalah kebutuhan psikologis yang mendesak terhadap sesuatu; atau dengan kata lain sesuatu yang dibutuhkan seseorang untuk bertahan. Sebenarnya seks, atau khususnya masturbasi, tidak pernah memuaskan kebutuhan psikologis primer tersebut. Cloud (2002) mengatakan bahwa “sebenarnya kita tidak membutuhkan alkohol, obat-obatan, atau seks. Kita dapat hidup dengan sangat baik tanpa hal-hal ini.” Namun mengapa sekarang ini kita justru beramai-ramai mengejar kebutuhan yang sekunder itu?
Menurut Freud, kehidupan seksual yang sehat dan normal ditandai dengan suksesnya perubahan obyek insting seksual dari satu fase perkembangan psikoseksual ke fase perkembangan lainnya. Terganggunya transisi fase-fase tersebut membuat kebutuhan seksual primer individu tidak terpuaskan. Salah satu akibatnya adalah fiksasi fase perkembangan yang menyebabkan individu harus terus memnuhi kebutuhan primer dari fase perkembangan yang terganggu yang seharusnya sudah terlewati (Susabda, 1983).
Salah satu dari fase perkembangan psikoseksual Freud adalah fase phallic. Pada tahap phallic (2-6 tahun), anak mendapatkan kepuasan seksualnya dari organ genital (Hall, Lindzey, Loehlin, & Manosevitz, 1985). Sarana yang digunakan adalah dengan memainkan alat kelamin. Pada saat yang sama, kerinduan seksual anak terhadap orang tuanya bertambah kuat. Muncullah Oedipus complex, yakni ketertarikan seksual kepada orang tua yang berlawanan jenis kelamin sekaligus perlawanan terhadap orang tua sama jenis. Penyelesaian tahap ini memungkinkan anak untuk mengidentifikasikan dirinya dengan orang tua yang berjenis kelamin sama. Gagalnya identifikasi tersebut akan menyebabkan individu terus mengalami rangsangan seksual untuk mendapatkan kepuasan melalu organ genitalnya setelah dewasa. Selain itu, Susabda (1983) berpendapat bahwa orang yang terfiksasi pada fase phallic cenderung sensitif dan rapuh terhadap penolakan orang lain. Rasa tertolak tersebut menyebabkannya melarikan diri dengan melakukan kegiatan seksual, entah pergi ke pelacuran, memperbanyak frekuensi hubungan seksual dengan pasangannya, atau melakukan masturbasi jika merasa ditolak juga oleh pasangannya.
Cloud (2002) mengatakan bahwa orang yang merasa terasing merasa tidak mampu memperoleh relasi, sehingga mereka mencari sesuatu yang lain. Pikiran mereka berkata bahwa mereka sebenarnya menginginkan sesuatu, seperti seks, dan akhirnya menjadi pusat pikiran mereka. Namun mereka sebenarnya membutuhkan perasaan dan hubungan penuh kasih dengan manusia lainnya dan dengan Tuhan.
Pandangan-pandangan tersebut, meski belum dibuktikan dengan penelitian yang mendukung dalam konteks Yogyakarta, bisa jadi benar. Mungkinkah fenomena sosial demikian yang sedang terjadi pada kaum muda pria penduduk dan pendatang di Yogyakarta, bahwa kini semakin banyak relasi dalam keluarga yang berjarak dan dinginnya kasih sayang antar individu? Mungkinkah ada masalah relasional besar yang menyebabkan obsesi akan seks meningkat?
Analisis Filosofis: Keterpisahan Seks dan Cinta
“Seks dan cinta seharusnya hadir bersama-sama, terintegrasi menjadi satu kesatuan, satu entitas. Seks merupakan sisi cinta yang erotis dan jasmaniah, merupakan cinta yang lembut dan memberi, yang membuat seseorang rindu memberikan semua yang dimilikinya dan seluruh dirinya kepada seseorang,” kata John White (2004) dalam “Menebus Eros”. Zaman ini, banyak “pria dan wanita mengalami cinta dan hubungan seks secara terpisah, padahal cinta dan seks seharusnya dikawinkan satu sama lain. Banyak di antara kita hanya ingin salah satu dari keduanya dan tidak terlalu mempedulikan yang lain.”
Seks pada hakikatnya merupakan kontak fisik intim yang merupakan ekspresi paling dalam dari relasi penuh kasih antara pria dan wanita. Seks adalah ekspresi dari cinta kasih, bukan semata-mata kebutuhan. Seseorang bisa kecanduan seks bila cinta kasih dan kebutuhan seksual dipisahkan. Ketika keduanya terpisah, kita dengan mudah masuk ke dalam perilaku kompulsi masturbasi, kebutuhan yang berlebihan akan hubungan seksual, pornografi, atau perilaku parafilia lainnya. Sayangnya, bentuk pemuasan tersebut tidak akan memberikan pemuasan, namun justru membuat kita makin membutuhkan stimulasi. Bertambahnya kebutuhan akan stimulasi membuat kita semakin terjebak dalam pemisahan relasi dan tubuh demi mendapatkan kenikmatan instan, sehingga penyatuan kembali kasih sayang dan seks menjadi semakin sulit. Pada tahap ini, senggama sekalipun dapat menjadi tindakan yang sangat egoistik, sekadar menggunakan tubuh orang lain untuk memuaskan diri sendiri. Hal ini sama saja dengan masturbasi.
Seks dan cinta yang terintegrasi adalah sesuatu yang asali dan baik adanya. Seks dan cinta yang terpisah atau tereduksi menjadi bersifat merusak, sebab kejahatan selalu mengambil inang, yaitu hal yang asali dan baik. Air itu alaminya baik, namun air yang telah teracuni itu mematikan.
Kaum yang Terjebak Dunia Khayal
White (2004) menceritakan seorang pendeta rumah sakit yang membuka sesi pelatihannya dengan menyapa hadirinnya yang semua calon pendeta,”Selamat pagi! Mereka yang berhubungan seks dengan pasangan masing-masing tadi malam saya minta tersenyum sekarang.” Senyuman mereka timbul bukan karena rasa mengikuti permintaan sang pembicara, namun karena tidak dapat menahan diri. Senyuman itu mengekspresikan perasaan tersipu, heran, dan senang bercampur sekaligus. Namun, mereka belum tentu memberikan reaksi yang sama bila sang pelatih meminta mereka yang bermasturbasi untuk tersenyum.
Saya rasa bukan tanpa tujuan aturan agama dan norma sosial universal menghambat perilaku masturbasi. Bukan tanpa tujuan bila ada rasa malu yang universal ketika kita menyalahgunakan organ seksual kita. “Saya curiga,” kata White,”Bahwa argumen-argumen pembenaran terhadap masturbasi sebenarnya lebih merupakan hasil rasionalisasi. Kita seharusnya curiga jika terus merasa malu.” Tampaknya, sebagaimana rasa sakit menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada anggota tubuh kita, demikian pula rasa malu menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada psyche kita.
Seperti yang dikatakan sebelumnya, masturbasi hampir tidak bisa dilakukan tanpa melibatkan fantasi. Perilaku seksual yang soliter dapat menjadi suatu kebiasaan untuk memilih dunia khayalan daripada realita sebagai respon terhadap suatu kebutuhan psikologis yang sesungguhnya (Cloud, 2002; White, 2004). Melaluinya, orang bisa melarikan diri dari risiko relasi yang nyata, seperti kerentanan fisik dan emosional (Bainbridge, 2004). Kita bisa memerintahkan seseorang dalam fantasi kita untuk melakukan apa saja yang kita kehendaki. Sekalipun fantasi itu merupakan istri atau suami kita sendiri, fantasi itu bukanlah sungguhan; pasangan kita belum tentu sekooperatif itu. Pandangan operant conditioning akan berkata bahwa perilaku seksual soliter yang di-reinforce dengan kenikmatan seksual akan menjadi kebiasaan, sehingga akhirnya hanya kepuasan semata yang menjadi kebutuhan, tanpa relasi. Padahal, relasi dengan sesama dan Tuhanlah kebutuhan primernya. Tentu ini akan menjadi jebakan lingkaran setan ketika orang yang sebenarnya memerlukan relasi justru menjauhi relasi dan mencoba memuaskan kekosongannya itu dengan masturbasi dan berfantasi. Dalam waktu beberapa tahun ke depan, bagi pelaku, wanita telah direndahkan menjadi sekadar “tubuh-tubuh yang berjalan,” yang tujuan keberadaannya adalah untuk “memuaskan syahwat saya.” Hidup dalam khayalan akan terasa lebih nyata dan aman daripada kenyataan.
Kalau begitu, fenomena dibelinya sex toys di toko-toko kecil yang bertaburan di Yogyakarta tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. (Zadok Elia)
Bainbridge, W. S. (Ed.). (2004). Berkshire Encyclopedia of Human-Computer Interaction (Vol. 1). Great Barrington, Massachussetts, U.S.A.: Berkshire Publishing Group.
Cloud, H. (2002). Perubahan-Perubahan yang Menyembuhkan. Malang: Departemen Literatur SAAT.
Crabb, L. (2004). Inside Out. Jakarta: Immanuel Publishing House.
Hall, C. S., Lindzey, G., Loehlin, J. C., & Manosevitz, M. (1985). Introduction to Theories of Personality. Canada : John Wiley & Sons.
Ogden, J. (2007). Health Psychology: A Textbook (4th ed.). Berkshire: Mc Graw-Hill Open University Press.
Susabda, Y. B. (1983). Pastoral Konseling. Malang: Gandum Mas.
White, J. (2004). Menebus Eros: Mematahkan Belenggu Dosa Seksual. Jakarta: Persekutuan Pembaca Alkitab.
No related posts.
wah..gue suka gaya lowh zadok kodok
postinganya keren, bisa saya taruh ga artikel ini di website saya? nanti saya link balik sumbernya
Keren mas, saya baru tau tentang ini