Pembelajaran dari IACCP XX

Pada bulan Juli 2010 lalu, Ganis, Peppy, Tiara dan Hendi berkesempatan mengikuti dan mempresentasikan hasil penelitiannya di Kongres IACCP XX di Melbourne, Australia. Berikut adalah hasil belajar yang ditulis oleh Lucia Peppy Novianti secara detil, yang diharapkan bermanfaat bagi para pembaca. (Red.)

——————–

Refleksi dan Pembelajaran dari

International Association for Cross Cultural Psychology

(IACCP) XX  -Melbourne  5-16 Juli 2010

Terkadang harus melihat hal di luar dulu

untuk dapat menyatakan betapa indah dan kayanya negeriku ini….

peppy

Pada tulisan ini, saya akan memaparkan pengalaman dan proses belajar saya baik bersumber dari proses mengikuti sesi-sesi pada IACCP Congres XX, interaksi dengan para peserta konferensi yang lain, maupun dari proses belajar terhadap lingkungan di kota Melbourne. Untuk membuat lebih runtut dan terfokus, saya membagi tulisan ini menjadi dua bagian: bagian pertama berisi pembelajaran keilmiahan saya yakni seputar psikologi khususnya psikologi lintas budaya dan bagian kedua berisi pengalaman dan pembelajaran saya dari kota Melbourne dan tempat-tempat yang saya kunjungi.

IACCP: Memahami konteks lintas budaya dalam penerapan psikologi

Dalam bagian ini, saya akan memaparkan pengetahuan baru yang saya dapatkan maupun hal-hal yang saya pelajari dalam mengikuti IACCP XX Melbourne. Saya ingin menulisnya dalam bentuk jurnal harian, berupa proses per hari. Hal ini untuk mempermudah saya dalam memaparkan proses belajar saya serta mencegah ada hal penting yang tertinggal.

Rabu, 7 juli 2010

Pada hari Rabu, saya mengikuti dua workshop, masing-masing setengah hari. Workshop pertama diberikan oleh Steven Heine tentang Culture and Self dan workshop kedua tentang Dynamic Approach oleh Dephie Oyserman. Refleksi dan pembelajaran atas materi tersebut:

  • Teori Psikologi mayoritas bersumber dari penemuan di masyarakat “Barat”. Makna masyarakat “Barat” pun sebetulnya sangat sempit, karena merupakan representasi dari masyarakat Amerika, khususnya AS. Hal ini terlihat dari meta analisis yang dilakukan oleh Heine, bahwa sebagian besar subjek penelitian pada jurnal-jurnal psikologi internasional dilakukan di Amerika, khususnya Amerika Utara, bahkan mayoritas AS. Selain itu, sebaran subjek pun kurang merata, karena mayoritas subjek adalah mahasiswa. Masih sedikit penelitian yang dilakukan pada masyarakat umum, ‘society’. Workhsop Heine ini tidak memberikan pengetahuan yang sama sekali baru bagi saya tetapi lebih memberikan proses berpikir yang lebih detail tentang perbedaan makna penggunaan teori dan konsep psikologi yang bersumber dari perbedaan budaya.
  • Budaya merupakan kognisi yang tersituasi. Hal ini menjadi tema besar pada workshop Oyserman. Budaya merupakan hasil hubungan-hubungan kondisi yang terjadi di masyarakat. Budaya terbentuk karena adanya: 1) relasi dalam diri individu itu sendiri dan 2) relasi antara individu satu dengan individu yang lain. Penting untuk mengetahui ‘bahasa’ masing-masing individu (within self) untuk mengetahui budaya individu tersebut. Menurut Oyserman, untuk dapat memahami budaya secara lebih komprehensif, ilmuwan psikologi dapat mengadaptasi teknik penelitian eksperimental, untuk menemukan causal effect, karena pada dasarnya budaya merupakan proses sebab-akibat. Langkah pertama dalam memahami budaya, yang diadaptasi dari penelitian eksperimen, adalah dengan menentukan ‘priming’ yang akan dianalisis. Prime tersebut harus selient and accesible. Selanjutnya, digunakan metode between subject design dalam melihat proses priming tersebut. Inti workshop Oyserman yang menarik bagi saya adalah bahwa perilaku manusia yang sangat dipengaruhi oleh budaya setempat dapat diurai dengan memakai metode eksperimen, sehingga ketika akan mengadaptasi atau menggunakan pada budaya yang lain, ilmuwan psikologi dapat memulai dari melihat jalur alur proses pada budaya asal.

Kamis, 8 Juli 2010

Pada hari kamis, saya dan teman-teman terjadwal mempresentasikan penelitian kami. Presentasi kami terbagi ke dalam tiga sesi, saya, Hendy, dan Silke ada di satu sesi bersama sesudah makan siang, sedangkan Ganis dan Tiara pada sesi sesudah snack sore dan berbeda ruangan. Selain berada di sesi presentasi tersebut, saya juga mengikuti materi Keynote dari David Matsumoto tentang Culture, Emotion, and Expression serta menghadiri satu kelas paralel tentang kesehatan mental.

  • Emosi sangat terlihat pada tubuh manusia, hanya saja sering tidak disadari, termasuk juga oleh orang yang melihatnya. Hal ini disampaikan melalui contoh-contoh foto para atlet Olimpiade dan kontestan Miss America oleh Matsumoto. Matsumoto mengajak para peserta sesi pada waktu itu untuk mencermati foto-foto yang ditayangkan, terutama ekspresi wajah. Foto-foto tersebut diambil setiap detik dan ketika diperbesar, terlihat dengan jelas dinamika emosi yang terjadi pada subjek terfoto (baik pada atlet yang menang maupun kalah serta pada dua kontestan final Miss America). Pada kondisi nyata, ekspresi wajah tersebut terjadi dalam hitungan yang sangat cepat, hitungan detik. Saya mendapat pembelajaran baru, tentang bagaimana mengamati ekspresi wajah seseorang, terutama bagian-bagian yang sangat peka terhadap makna emosi. Makna emosi dari ekspresi wajah seseorang dapat teramati antara lain pada dahu, ujung bibir, maupun alis dan mata.
  • Pada sesi paralel bertema Mental health, dipaparkan tentang bagaimana penanganan para pengungsi perang dari berbagai negara yang datang ke Australia. Ada tempat penampungan (dukungan infrastruktur) dan juga sistem penanganan terpadu (dukungan sistemik). Sistem penanganan terpadu diawali dengan melakukan pelatihan-pelatihan terhadap pihak-pihak yang terkait dalam menangani para pengungsi ini, terutama tentang kesehatan mental. Sistem diawali dari asesmen kondisi dan kebutuhan, untuk menentukan perlakukan yang dibutuhkan. Asesmen menjadi dasar ketrampilan para pihak yang terkait sehingga menjadi materi utama pelatihan. Proses asesmen berupa diskusi terarah dengan konsep diskusi pembelajaran dewasa (adult learning process). Konsep teori yang dipakai adalah teori kognitif pada individu dewasa. Metode asesmen tersebut efektif untuk melihat kondisi kesehatan mental para pengungsi dan memberikan diagnosis tepat. Metode asesmen ini merupakan bagian awal dari sistem. Selain penekanan pada proses asesmen, sistem yang telah dibangung juga berupa alur proses penanganan sebagai langkah tindak lanjut setelah dilakukannya asesmen. Sistem tersebut telah berjalan di Australia dan efektif dalam rangka menangani kondisi kesehatan mental para pengungsi yang ada di Australia.
  • Pada sesi presentasi saya, pertanyaan yang banyak muncul adalah seputar bagaimana peran perempuan sendiri dalam konteks bencana dan apa makna bencana alam terhadap kehidupan perempuan di Jawa. Terjadi diskusi yang menarik dan menyenangkan, karena saya merasa tidak sebagai satu-satunya orang yang berbicara, tetapi juga terjadi dialog antar-peserta dalam sesi tersebut. Dari proses diskusi yang terjadi, saya mendapat pemaknaan baru atas proses penelitian saya, yakni bahwa gempa bumi bukan sebagai faktor kondisi yang membalik keadaan para perempuan terkait gender pada masyarakatnya (karena memang kesadaran gender telah ada di masyarakat bahkan sebelum gempa) tetapi merupakan situasi reflektif bagi masyarakat atas peran gender. Tidak terjadi hubungan sebab akibat dalam konteks ini.

Jumat, 9 Juli 2010

Pada hari jumat, lebih banyak sesi yang tersedia, serta terdapat pula tiga orang keynote speaker pada hari tersebut. Tidak semua sesi paralel yang saya ikuti ternyata menarik. Ada tiga sesi yang menarik bagi saya, yakni sesi Mental Health Service for Immigrant oleh Hary Minas, kelas Marriage yang berisi tiga orang presenter, serta presentasi tentang sisi lain pada pelaku KDRT.

  • Hary Minas berbicara tentang kesenjangan antara profesional praktisi kesehatan mental dengan  kebutuhan penanganan kesehatan mental di Australia. Kondisi tersebut serupa dengan Indonesia, di mana jumlah penduduk yang tinggi, angka gangguan mental juga bertambah setiap tahunnya tetapi praktisi kesehatan mental sangat terbatas. Cara untuk mengurangi kesenjangan tersebut yang dilakukan di Australia yaitu: 1) ketika melakukan asesmen, petugas dilatih untuk membawa pada kondisi atau konteks kelokalan masyarakat atau si penderita dan 2) intervensi yang dilakukan dimulai dari mendengarkan masyarakat. Kedua hal tersebut juga bersumber dari konteks kelokalan yang menjadi pendorong munculnya permasalahan seputar kesehatan mental. Kunci yang saya pelajari adalah: bahwa ketika bicara tentang kondisi kesehatan mental, kita sangat perlu melihat konteks kehidupan masyarakat setempat dan menggunakan potensi masyarakat setempat untuk mengatasi kondisi tersebut.
  • Dari sesi Paralel bertema Marriage, saya mendapatkan pengetahuan baru tentang bagaimana mendapatkan persepsi masyarakat terkait perspektif gender dan kekerasan domestik. Peneliti tersebut berasal dari Meksiko. Mereka menggunakan media cerita bergambar untuk mendapatkan persepsi masyarakat tentang perilaku kekerasan domestik: pemakluman, alasan, dan perilaku. Angket psikologi maupun skala sikap mereka visualkan dalam bentuk gambar dengan konteks budaya setempat. Hasilnya, walaupun secara analisis kuantitatif tidak ditemukan korelasi signifikan, tetapi peneliti tetap dapat melihat dinamika persepsi para subjek pengisi angket tersebut (representasi masyarakat). Aitem yang divisualkan juga lebih mampu menggambarkan maksud peneliti. Dari penelitian tersebut, saya juga mempelajari bagaimana proses memahami persepsi dapat menjadi awal untuk melakukan program-program yang dibutuhkan, khususnya dalam konteks mencegah perilaku kekerasan domestik. Di Meksiko, ada riwayat budaya masyarakat yang menomorduakan perempuan. Walau saat ini jaman telah berkembang dan perempuan di wilayah tersebut juga telah mulai maju, tetapi ternyata kondisi visual yang tampak belum tentu menggambarkan pemaknaan atau keyakinan masyarakat setempat. Metode yang digunakan para peneliti ini dapat menggambarkan proses internal masyarakat dalam memandang konteks peran gender dan hubungannya dengan persepsi dan sikap atas perilaku kekerasan domestik.
  • Hasil penelitian lain yang menarik adalah tentang darkside of masculinity. Penelitian ini dilakukan di Indonesia (peneliti Kristi Poerwandari). Penelitian tersebut berisi dinamika para pelaku kekerasan dalam rumah tangga. Peneliti memberikan gambaran tentang beberapa kondisi pelaku KDRT. Topik penelitian tersebut menarik untuk saya karena saya berminat terhadap keluarga, perkawinan, dan perempuan. Hasil penelitian tersebut menarik karena memberikan sisi pandang yang lain, yakni menyikapi kasus dari sudut pandang yang lebih luas, tidak hanya perspektif korban tetapi juga dari sisi pelaku. Atau, bila berbicara konteks gender, maka penelitian ini merupakan penelitian yang penting, yakni mengulas pula peran gender dari sisi laki-laki sehingga cara pandang dapat lebih kontekstual dan holistik.

Sabtu, 10 Juli 2010

Hari terakhir konferensi dimulai dengan mengikuti sesi paralel berisi presentasi Mbak Ganis, kemudian mengikuti paralel Mental Health, keynote Daphna Oyserman, paralel Social Support, dan keynote oleh Stephen Heine.

  • Pada presentasi kedua Mbak Ganis, terjadi diskusi yang hidup dan menarik. Para peserta yang hadir saling memberi komentar dan bertanya. Impresi saya, bahwa semua peserta merujuk pada satu arah, yakni perlunya menyentuh dan melibatkan orang tua dalam menangani anak. Dalam kasus ini, yang dipresentasikan oleh mba Ganis, adalah perlunya intervensi terhadap orang tua anak atau korban bencana.
  • Pada sesi paralel Mental Health, terdapat beberapa presentasi yang menarik. Yang paling menarik adalah presentasi dari Erminia, seorang Ph.D di bidang psikiatri yang memaparkan penggunaan seni, terutama seni foto dan video, untuk asesmen dan intervensi psikologis pada masyarakat. Ia memaparkan bagaimana menggunakan video kegiatan masyarakat setempat untuk membantu memahami konteks internal dalam diri individu dan komunitas. Walaupun cara berbicaranya cepat dan berlogat Italia sehingga agak sulit dipahami, tetapi saya masih mampu memahami. Presentasi yang menarik kedua adalah seorang praktisi psikologi klinis, keturunan India tetapi belajar psikologi sampai doktoral di AS. Ia mendalami meditasi sebagai salah satu metode intervensi klinis yang selama ini dipakainya dalam praktik psikologi. Presentasinya berisi refleksi pengalaman praktik menggunakan meditasi dan mengulas secara ilmiah proses meditasi sebagai proses psikologis yang ilmiah. Menurutnya, proses intervensi dengan meditasi merupakan proses terapiutik karena terjadi proses relaksasi diikuti koreksi-koreksi seperti proses psikoterapi lainnya.
  • Pada sesi Keynote oleh Oyserman, materi yang disampaikan seperti pada saat workshop, yakni membahas bahwa budaya merupakan proses kognisi yang tersituasi. Saya merasa tidak ada suatu materi baru yang menarik, tetapi sesi keynote tersebut menjadi sesi pendalaman bagaimana melihat konteks  budaya sebagai proses kognisi manusia. Walau topik sama, tetapi pada sesi keynote ini saya semakin memahami penalaran tersebut melalui contoh-contoh yang diberikan.
  • Materi yang menarik berikutnya adalah yang disampaikan oleh Heine. Ia memberi judul the most WEIRD person in the world. Judul tersebut atraktif dan membuat penasaran. Ternyata, Heine ingin memaparkan temuannya tentang konsep subjek yang biasa digunakan sebagai subjek dalam penelitian psikologi, yakni orang barat, ekonomi menengah atas, pendidikan tinggi (karena mayoritas subjek adalah mahasiswa perguruantinggi). Karakter tersebut disingkat oleh Heine sebagai subjek WEIRD. Materi Heine dalam kelas besar ini kembali ingin menegaskan bahwa masih perlu penelitian dengan konsep cross-culture yang sesungguhnya sehingga generalisasi semakin mendekati absolut. Materi ini sudah terdapat di bagian kecil dalam workshopnya tetapi pada sesi keynote ini konteks kekhususan karakteristik subjek sebagai salah satu komponen penting dari generalisasi dibahas lebih mendalam.

Belajar dari Kota Melbourne

Sub-judul Belajar dari Kota Melbourne merupakan gambaran bagaimana saya memberi pemaknaan terhadap negara asal saya, yakni saya dapat mengapresiasi, lebih bersyukur, dan lebih bisa melihat ke dalam negara saya setelah saya berkeliling kota Melbourne (walau belum semua tempat saya datangi) selama sekitar 10 hari.

copma in unimelb2 rPertama kali menginjakkan kaki di Melbourne, setelah keluar dari Bandara, komentar pertama yang terlontar adalah: kota yang teratur. Keteraturan terlihat dari beberapa hal, antara lain: kejelasan penunjuk  baik penunjuk jalan, penunjuk arah ketika berada di suatu bangunan, penunjuk fungsi, serta tersedianya berbagai informasi berupa brosur-brosur informatif yang disediakan pemerintah setempat. Informasi mengenai kota Melbourne dan isinya disajikan secara lengkap, mulai dari peta kota yang lengkap, moda transportasi yang tersedia, tempat-tempat di dalam kota, tempat akomodasi, sampai tempat mendapatkan makanan. Keteraturan berikutnya terlihat pada perilaku berlalulintas. Tidak terlihat adanya pos-pos polisi di banyak tempat, tetapi masyarakat tetap teratur dalam berkendara. Tidak hanya pengguna kendaraan bermotor tetapi juga pejalan kaki dan pengguna sepeda. Informasi-informasi tentang perilaku berdisiplin juga jelas terpampang, seperti besarnya denda ataupun tanda-tanda larangan. Tidak hanya untuk perilaku berlalulintas tetapi juga aturan-aturan seperti merokok ataupun makan-minum di tempat tertentu. Saya sebagai seorang pendatang, mudah memahami tanda-tanda peraturan yang diberlakukan.

Di sepanjang jalan Melbourne, lebih banyak dijumpai kendaraan umum daripada kendaraan pribadi. Kendaraan umum yang tersedia sangat nyaman, bersih, tidak berasap rokok, tepat waktu, serta menjangkau semua daerah di kota Melbourne. Saya pun menyepakati bahwa tidak lagi memerlukan kendaraan pribadi karena transportasi umum yang tersedia pun sudah mendukung. Kondisi tersebut pun mendukung terciptanya kebersihan udara kota Melbourne karena moda transportasi umum cenderung menggunakan listrik sehingga tidak berkontribusi terhadap polusi udara. Selain karena kenyamanan moda transportasi, daya dukung lain dari perilaku bertransportasi ini adalah tersedianya lahan pejalan kaki yang nyaman dan mendukung. Tidak ada trotoar yang dipakai untuk berjualan. Trotoar pun cukup lebar dan pada beberapa area disediakan tempat untuk duduk. Perubahan perilaku bertransportasi tidak hanya dengan mengubah sarana transportasinya, tetapi juga daya dukung yang lain, seperti di Melbourne dengan kenyamanan lahan pejalan kaki atau biaya parkir yang tinggi.

Kota Melbourne adalah kota yang disiplin. Peraturan bagi warganya sangat detail, dari masalah umum seperti pelanggaran berlalulintas atau pun tentang pajak, sampai masalah lisensi bagi pekerja, bahkan pekerja non-formal, lisensi untuk membuka rumah makan, sampai aturan-aturan kecil seperti merokok. Peraturan-peraturan tersebut terinformasi dengan jelas kepada masyarakatnya. Mudah kita dapati informasi tentang aturan-aturan beserta denda yang harus dibayar bila melanggarnya. Informasi tersebut terpampang secara jelas, di tempat yang terlihat dan disertai dengan simbol informatif. Disiplin juga didukung oleh penegaknya. Pemerintah setempat secara random tetapi berkala melakukan sidak. Terhadap masyarakat yang melanggar, sanksi tidak diminta saat itu juga tetapi dengan tersistem. Petugas meminta alamat rumah dan nomor penduduk dan secara otomatis pelanggaran dan denda akan tercatat oleh database pemerintah. Sistem tersebut mendukung pencegahan perilaku penyalahgunaan wewenang oleh petugas.

Melbourne memang hebat dalam hal keteraturan, kedisiplinan, sistem transportasi, maupun informasi, tetapi tidak terlalu hebat dalam hal potensi sumber daya. Ketika saya mengunjungi Melbourne zoo, saya tidak terlalu terpesona dengan keindahan yang ditawarkan, selain hanya karena melihat hewan  yang tidak ada di Indonesia, seperti kanguru, koala, dan pinguin. Saya memang ingin sekali melihat ketiga hewan tersebut karena di Indonesia tidak ada. Saya gembira bisa melihat langsung ketiga hewan tersebut. Tetapi, kalau dibandingkan dengan Gembira Loka, apalagi Taman Safari, kekayaan kebun binatangnya masih terbilang jauh lebih baik di Indonesia. Mereka memiliki sistem infrastruktur kebun binatang yang baik tetapi kekayaan flora dan faunanya masih sangat indah dan menarik di Indonesia. Setelah selesai memutari Melbourne zoo, yang ternyata sekitar sepertiga atau separuh saja dari gembira loka, saya pun merasa bangga dengan Gembira Loka J. Hal yang sama saya temui ketika saya berkunjung ke Melbourne Aquarium. Berbeda dari Melbourne zoo, ketika melihat Melbourne Aquarium dari luar, saya sudah tidak terlalu berpengharapan tinggi, bahwa aquarium tersebut spektakuler. Persepsi tersebut muncul karena dari luar bangunan aquarium terlihat jelas tidak besar, seperti seaworld indonesia. Ternyata dugaan saya benar. Kehebatan aquarium tersebut hanya karena dimilikinya satu ruang berisi pinguin dan satu aquarium berisi beberapa hiu, selebihnya hanya berisi aquarium-aquarium kecil dan ikannya pun sangat sedikit yang berasal dari perairan australia. Wah, jadi semakin bangga dengan kekayaan laut Indonesia.

Saya tertarik dengan tradisi dan adat masyarakat ketika saya datang di suatu tempat. Ketika berada di Melbourne, saya cukup kesulitan untuk menemukan tempat atau suatu pertunjukan budaya lokal. Seorang teman saya dari KJRI bahkan berkata “Apa mereka punya budaya (lokal)? Budaya mereka kan ya campuran dari berbagai budaya”. Memang, yang terlihat justru budaya-budaya masyarakat lain, seperti ketika saya makan di Arrow street, saya melihat sekelompok anak muda India atau Pakistan mepertunjukkan tarian mereka. Ketika saya melihat jadwal-jadwal pertunjukkan di beberapa gedung pertunjukan setempat, semua berisi pertunjukkan modern, ala barat, seperti cabaret, konser lagu pop atau modern, maupun drama-drama kontemporer. Demikian pula, ketika saya berkunjung ke Melbourne Museum, saya justru menemukan banyak hal terkait dengan sains dan teknologi dan sangat sedikit berisi kebudayaan maupun tradisi masyarakat setempat.

Berbicara tentang Museum, saya merasa kita perlu belajar dari masyarakat Melbourne. Banyak museum maupun monumen di sana. Saya berpendapat bahwa masyarakat kota tersebut adalah masyarakat yang apresiatif, peduli terhadap sikap saling menghargai. Penampilan dan pengelolaan museum atau monimen pun menarik sehingga menjadi tempat yang dikunjungi masyarakat setempat juga selain para pendatang. Saya kagum dengan perilaku mengapresiasi masyarakat Melbourne melalui monumen atau museum tersebut. Kesan ini saya peroleh ketika saya berkunjung ke Shreme of Rememberance, Police Melbourne Museum, Royal Botanical Garden, maupun di State Library. Monumen dan museum dikemas dalam tampilan menarik sehingga tidak ada kesan kuno atau old-fashion bagi para pengunjungnya. Bahkan, Police Museum ditempatkan di sebuah pusat perkantoran dan perdagangan di Melbourne. (X)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>