Sebentuk Cinta untuk Anak-Anak Korban Gempa

sekolah darurat bantulTentunya masih teringat jelas di benak kita kejadian empat tahun silam. Ketika semua orang sedang bersantai dan bermanja bersama keluarga, tiba-tiba sebuah bencana yang maha dahsyat mengguncang kota Yogya. Sontak, suasana pagi yang awalnya tenang, berubah seketika menjadi gemuruh yang memekakkan telinga. Jerit tangis dan teriakan minta tolong terdengar hampir di sepanjang jalan.

Kekacauan pagi itu dihebohkan pula dengan isu tsunami. Hiruk pikuk pun terjadi di mana-mana. Terdapat banyak korban tak berdaya di tengah lautan manusia yang berusaha menyelamatkan diri dan keluarganya. Sangat menggiriskan ketika melihat korban berjatuhan. Di tengah ketidakberdayaan diterpa bencana yang tidak terkira, ternyata masih banyak orang-orang yang memiliki kepedulian untuk sesama, terutama kepada anak-anak korban pasca gempa.

Dimulai dari ketertarikan pada anak-anak, Nindyah Rengganis memiliki sebuah angan. “Awalnya aku sangat tertarik dengan topik anak. Aku ingin sekali menjadi praktisi (baca: psikolog anak) yang tidak saja membuka praktek, tetapi juga mampu mengembangkan sebuah center (pusat kegiatan) dimana dapat dijadikan tempat untuk belajar dan bermain, bagi anak dan orang tua anak. Intinya, praktisi yang bermanfaat bagi komunitas,” ujarnya.

Sedari duduk di bangku kuliah (Fakultas Psikologi UGM), Ganis, sapaan akrabnya, telah aktif di banyak kegiatan, salah satunya bekerja paruh waktu sebagai asisten pengajar di sebuah playgroup. Ganis menambahkan, dirinya tidak mengangkat tema tentang anak pada skripsinya. Oleh karenanya, saat ia diberi kesempatan untuk mengadakan penelitian, saat itulah ia kembali memulai eksplorasinya pada dunia anak.

Kesempatan terbuka tatkala Manfred Zaumzeil, profesor di bidang psikologi yang berasal dari Jerman datang ke Indonesia dan mengajak ICBC untuk bekerja sama dalam pengambilan data untuk penelitian terkait dengan gempa bumi di Yogyakarta. Target awal dari keterlibatan Ganis pada penelitian ini adalah belajar melakukan penelitian kualitatif dengan konteks bencana. Namun, target awal tersebut kemudian menerbitkan niat Ganis untuk memulai penelitian tentang persepsi anak terhadap gempa bumi.

Gayung bersambut, Ganis sebagai peneliti utama ditemani kedua partner kerjanya siap mengadakan penelitian. Lucia Peppy Novianti sebagai peneliti kedua, dan Dessy Putri Tri Hapsari sebagai peneliti ketiga sekaligus yang banyak terlibat dalam proses pengambilan data. Ketiganya bekerja sama untuk melakukan penelitian itu dan memulainya dengan berbagai persiapan.

Proses Penelitian

Awalnya Ganis beserta tim merancang proposal penelitian untuk diajukan ke CRCS (Centre for Religious and Crosscultural Studies) pada bulan Oktober 2008. Proposal mereka termasuk dalam 26 besar proposal pilihan, sehingga mereka berhak mengikuti workshop penelitian di CRCS pada akhir tahun 2008. Selanjutnya, mereka merevisi proposal dan mengirimkannya kembali sembari menunggu pengumuman di bulan Maret 2009. Kenyataan berkata lain, ternyata Ganis dan timnya tidak berhasil masuk 10 besar.

Akan tetapi, hal itu tidak menyurutkan niat ketiganya untuk terus melakukan penelitian. Setelah kegagalan menembus nominasi 10 besar, mereka bertekad untuk tetap menjalankan penelitian ini dengan pembiayaan mandiri dari ICBC. Penelitian dilakukan di dua dusun di Kabupaten Bantul. Awalnya mereka melakukan pendekatan ke kedua dusun tersebut. Langkah awalnya dengan cara menemui kepala dusun, kemudian mendata anak usia 9-12 tahun di dusun itu. Di dusun satu, awalnya ada sekitar 12 anak. Setelah meminta izin dari orangtua masing-masing, akhirnya diperoleh partisipan sebanyak 5 anak di dusun satu dan 5 anak di dusun dua.

Proses penelitian yang memakan waktu kurang lebih selama 1 tahun ini terbagi mulai dari proses pengambilan data, pengolahan dan analisis data, pembuatan laporan, presentasi dan evaluasi. Penelitian ini menggunakan teknik Mozaic Approach, yang berarti menggabungkan berbagai teknik dalam pengambilan data.

  1. 1. Pengambilan Data

Melakukan pengambilan data dengan anak-anak sebagai subjek penelitian bukanlah hal yang mudah. Untuk mengatasinya, tim peneliti mengembangkan beberapa cara yaitu “Kumpul Bocah”, wawancara (pada anak dan orang dekatnya), bercerita dengan gambar, dan bercerita dengan potret.

Pertama adalah kegiatan yang disebut kumpul bocah. Kegiatan yang diadakan setiap minggu, selama kurang lebih 2 bulan ini digunakan untuk membangun hubungan (rapport). Melalui kumpul bocah, tim peneliti mengumpulkan anak-anak partisipan untuk berkegiatan. Jenis kegiatannya bebas dan bermacam-macam, bisa dalam bentuk permainan seperti bermain sepeda, pergi ke pantai, atau menggambar. Di akhir kegiatan, anak-anak menuliskan kegiatan yang baru dilakukannya ke dalam bukunya (diary/jurnal) masing-masing. Observasi sudah mulai dilakukan pada tahap ini.

Tahap selanjutnya adalah mewawancarai significant others atau orang yang dekat dengan partisipan, seperti orang tua, kakek, atau nenek. Kemudian peneliti melakukan wawancara pada anak. Informasi atau data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan significant others menjadi modal untuk menggali data pada anak. Wawancara dengan guru juga dilakukan, karena selain lingkungan keluarga, lingkungan sekolah merupakan hal penting yang berkorelasi langsung dengan anak-anak. Peneliti ingin mengetahui bagaimana situasi anak-anak pasca bencana tersebut di sekolah dan di mata para guru.

Setelah proses wawancara itu, Ganis dkk menghadirkan sejumlah gambar untuk media bercerita. Peneliti menggunakan gambar-gambar yang diunduh dari internet, berkaitan dengan gempa dan anak-anak. Beberapa topik diantaranya, tentang gempa, teman-teman, keluarga, sekolah, bahkan sukarelawan asing yang berdatangan. Partisipan anak diminta memilih gambar dan menceritakannya, dengan begitu peneliti mendapat gambaran mengenai gempa bumi di mata anak-anak.

Tim peneliti juga meminta anak untuk mengambil gambar dengan kamera (memotret), mengenai apapun yang mereka sukai. Mereka juga diminta untuk memotret hal-hal yang mengingatkan mereka pada saat gempa terjadi. Setelah foto dicetak, anak-anak memilih gambar yang paling disukainya lalu membuat cerita berdasarkan foto yang mereka ambil.

2. Interpretasi Data

Sebagai penelitian kualitatif, peneliti memperoleh data yang amat banyak dan beragam. Data tersebut diolah dengan melakukan penyandian (coding) terlebih dahulu sebelum diinterpretasi lebih jauh. Temuan-temuan dikategorikan ke dalam beberapa tema, yaitu (1) konteks sosial budaya anak, (2) pemahaman anak terhadap gempa, (3) dampak gempa terhadap kondisi anak, (4) pengaruh lingkungan anak terhadap konsep gempa, (5) aspek emosi yang muncul, dan (6) kebutuhan-kebutuhan anak.

Setelah melalui serangkaian proses pengumpulan dan pengolahan data, akhirnya laporan diselesaikan pada pertengahan tahun 2010. Dan belum lama ini, hasil penelitian dipresentasikan di Conference IACCP (International Association of Cross Cultural Psychology) XX di Melbourne Australia, di Konggres Nasional IPK di Yogyakarta, dan 1st International Conference on Indigeneous and Cultural Psychology di UGM. Semuanya di tahun 2010. Dalam konferensi IACCP, foto-foto hasil jepretan partisipan juga dipajang di photo exhibition selama konferensi, tentunya setelah mengantongi izin dari partisipan.

Ketika ditanya mengenai hal apa saja yang menarik selama penelitian berlangsung, Ganis menjelaskan dengan sangat antusias. “Tentu saja sangat menarik karena data langsung berasal dari anak anak. Yang menarik adalah pada bagian foto yang mereka ambil, dan mereka menceritakan foto-foto mereka. Cerita tersebut menggambarkan pemahaman dan pemikiran mereka tentang gempa bumi. Sangat kaya data,” tuturnya.

Hasil penelitian ini menunjukkan pemahaman anak-anak tentang gempa bumi yang mereka alami berkaitan dengan aspek sosial yang berasal dari keluarga dan tetangga, aspek religius yang diajarkan orang dewasa, dan aspek sains yang diajarkan di sekolah. Dalam penelitian ini juga ditemukan bentuk-bentuk emosi yang muncul pada saat dan sesudah gempa terjadi. Di antaranya adalah, perasaan takut, sedih, dan kaget yang muncul sebagai reaksi peristiwa gempa dan akibat yang ditimbulkannya. Sedangkan perasaan senang, dan bahagia, muncul ketika kegiatan kembali berjalan seperti biasa.

Selama proses pengambilan data, ada beberapa temuan tambahan yang menarik. Salah satunya berkaitan dengan penggunaan metode menggambar dan menulis diary (jurnal). Ternyata, anak-anak Indonesia (dalam hal ini Jawa) masih menganggap kegiatan menggambar dan menulis merupakan bagian dari tugas (seperti tugas di sekolah), bukannya sebagai bentuk ekspresi.

Ganis dan timnya barangkali memiliki sebuah harapan terhadap penelitian ini. Yang pertama jelas mendapatkan pengalaman melakukan penelitian dengan anak-anak. Dari penelitian ini diharapkan masyarakat mendapat pemahaman mengenai pandangan anak-anak terhadap bencana alam, terutama gempa bumi. Lantas, jika ditanya sudah sesuai harapankah penelitian ini, Ganis menjawab sembari tertawa. “Secara keseluruhan sudah sesuai harapan karena kami -sebagai tim peneliti- sudah menjalankan semua rencana, yang belum sesuai harapan adalah penyusunan laporan yang lengkap dan komprehesif,” katanya.

Penelitian yang dilakukan Ganis bersama timnya ini tentu memiliki manfaat. Salah satu manfaatnya adalah penelitian ini menjadi sebuah bentuk dokumentasi berdasarkan studi yang mengangkat suara anak-anak dalam konteks bencana. Ganis mengamati, jarang sekali suara anak-anak diusung dan dipublikasikan.

Meneliti persepsi anak terhadap gempa ini tentu tidaklah mudah. Ganis sebagai peneliti yang terjun langsung menemui partisipan usia anak-anak mengajak para peneliti yang mungkin tertarik melakukan penelitian serupa untuk mengajak anak-anak terlibat dalam penelitian. Berdasarkan pengalaman pada penelitian ini, anak sebenarnya mempunyai pandangan, pemahaman, kebutuhan, dan emosi yang spesifik dalam menghadapi bencana alam. Namun sampai sejauh ini anak masih cenderung mengadopsi dan mengikuti apa yang orang dewasa pikir dan lakukan. Anak belum mempunyai ruang gerak untuk secara mandiri menentukan langkahnya. Oleh karena itu, sebaiknya orangtua dan orang dewasa lebih mendengarkan dan memperhatikan apa yang anak butuhkan dan rasakan. Dengan demikian, anak mendapatkan lingkungan yang nyaman untuk tumbuh dan berkembang, menjadikan hal ini sebagai modal dasar bagi mereka untuk menghadapi bencana di masa datang.

Ganis juga menambahkan hal-hal yang perlu diperhatikan dari proses penelitian ini. Diantaranya, bagaimana membangun kepercayaan dengan menepati janji. Hal itu bisa dilihat dari pola anak-anak yang sangat tepat waktu, sehingga sebagai peneliti tidak boleh mengingkari janji atau pun datang terlambat. “Jika hal itu terjadi, maka kita sebagai peneliti akan diremehkan atau tidak dipercaya,” ujarnya.

Kemudian, peneliti hendaknya menanyakan kesediaan partisipan untuk diwawancarai. Pada awalnya, terkadang partisipan tidak menyanggupi ketika dimintai kesediaan untuk diwawancarai. Akan tetapi sebagai peneliti sebaiknya selalu bersikap kritis tanpa harus membuat anak (partisipan) terpojok. Ini pentingnya memperhatikan hak-hak anak dalam proses penelitian.

Selanjutnya Ganis dkk memiliki keinginan untuk merangkum dan ‘mengembalikan’ hasil penelitian itu kepada anak-anak tersebut, tentu saja dengan bahasa yang dapat diterima oleh masyarakat awam, karena selama ini peneliti banyak menggunakan istilah yang kadang tidak dipahami masyarakat. (Fransiska Ria Aninda)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>