Berkaca pada Film Perempuan Berkalung Sorban

“Jangan sebut aku perempuan sejati jika hidup hanya berdalang lelaki.

Tapi bukan berarti aku tidak butuh lelaki untuk aku cintai”.

– Nyai Ontosoroh-

Kutipan dialog dalam film perempuan berkalung sorban ini, juga adalah kutipan dari kata-kata Nyai Ontosoroh dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Novel yang mengisahkan perjuangan seorang perempuan pribumi dalam mempertahankan prinsip hidup dan pandangan-pandangan yang jauh berbeda dengan budaya bangsanya masa itu. Kemandirian dan kemampuan intelektualnya diuji dengan adanya benturan-benturan dengan masyarakat.

Nyai Ontosoroh bisa jadi terinspirasi oleh Kartini. Pramoedya menyandingkan keduanya dalam novel tersebut. Dia menyiratkan bahwa Nyai Ontosoroh dan Kartini memiliki satu pandangan tentang perempuan. Bahwa seharusnya perempuan mampu mandiri dan tidak lagi bergantung pada laki-laki. Perempuan berhak mendapat kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk mengeyam pendidikan dan bekerja.

Novel yang di tulis oleh Pram ini menginspirasi sikap dan pandangan Annisa, seorang anak kyai dalam film Perempuan Berkalung Sorban. Dia menginginkan kemajuan dalam bidang pendidikan bagi para santri (terutama perempuan). Maka dia memperjuangkan agar ada perpustakaan dalam pondok pesantren sekaligus adanya buku-buku modern yang diyakininya dapat memperluas dan memajukan wawasan para santri. Keyakinan itu mendapat tentangan karena dianggap melanggar peraturan pondok pesantren.

perempuan bkalung sorban rDalam film ini digambarkan bagaimana peraturan dan ajaran dalam agama yang dianut keluarga Annisa, tidak memihak pada perempuan. Seperti aturan diperbolehkannya seorang laki-laki memiliki lebih dari satu istri. Perempuan tidak diperbolehkan keluar seorang diri dari lingkungan pondok pesantren. Cerita dalam film tersebut tentu tidak mewakili gambaran keseluruhan masyarakat kita karena latar tempat yang diangkat adalah lingkungan pondok pesantren. Namun konflik yang dimunculkan cukup memberi gambaran bahwa kemandirian, ketegasan, kemampuan intelektual perempuan adalah hal yang tak mudah diterima masyarakat terutama dalam masyarakat yang patriarkhis.

Media massa kita belum cukup berhasil dalam mengangkat permasalahan gender. Representasi perempuan di media massa masih kental dengan ketidakadilan gender. Film, iklan, berita dan reality show memuat praktek subordinasi terhadap perempuan. Ketidaksetaraan gender dapat diidentifikasi melalui analisis menguasai-dikuasai, memimpin-dipimpin, pelindung-dilindungi, majikan-pelayan, pencari nafkah keluarga-pengurus rumah tangga, rasional-emosional, wilayah publik-wilayah domestik.

Siapa yang kerap digambarkan sebagai penguasa, pemimpin, pelindung? Laki-laki atau perempuan? Dalam Perempuan Berkalung Sorban, kakak laki-laki Annisa digambarkan sebagai kepala keluarga. Annisa menjadi pihak lemah yang harus pasrah menerima perjodohan dengan laki-laki yang sudah memiliki istri. Annisa tidak berhak menentukan jalan hidupnya sendiri bukan karena umurnya yang lebih muda dibanding saudara laki-lakinya, namun karena ia adalah seorang perempuan. Sebagai perempuan, ia harus patuh pada pengambil keputusan dalam keluarga yakni kakak laki-lakinya. Annisa, sebagai perempuan dan seorang istri, ia harus menahan keinginannya untuk membaca dan menulis buku. Sebagai istri dia hanya boleh mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Ketika dia akhirnya bisa menjalani kegemaran membaca dan menulisnya, itu pun atas ijin suaminya.

Representasi perempuan dalam media massa adalah cerminan pandangan masyarakat terhadap perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, memasak dan mengurus anak dikatakan sebagai pekerjaan perempuan. Pekerjaan di wilayah publik dianggap sebagai pekerjaan laki-laki. Pembedaan keduanya dianggap kodrat. Inilah yang menjadi inti masalah ketidakadilan gender. Laki-laki bukannya tidak mampu melakukan pekerjaan rumah tangga namun hal tersebut masih dianggap tidak lazim dalam masyarakat kita.

Penting diketahui bahwa gender merupakan penciptaan perbedaan status sosial yang menandai hak dan kewajiban. Gender adalah hasil konstruksi masyarakat dan bukan kodrat. Gender diikuti dengan stereotype yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan. Misalnya laki-laki adalah kepala keluarga dan pencari nafkah sementara perempuan bertugas mengurus anak serta pekerjaan rumah tangga. Laki-laki rasional sementara perempuan emosional, laki-laki kuat dan perempuan lemah. Gender merupakan pelabelan yang pada kenyataannya bisa dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan karena sifatnya adalah konstruktif dan bukan kodrat. Perempuan bisa bekerja di kantor, bekerja sebagai tukang ojek, buruh bangunan, kepala keluarga begitu pun sebaliknya dengan laki-laki. Perempuan memiliki rahim dan memproduksi sel telur sementara laki-laki memiliki penis dan memproduksi sperma, itulah yang disebut dengan kodrat. Kodrat perempuan adalah BISA memiliki anak. Karena perempuan diciptakan memiliki rahim dan ovum. Namun perempuan boleh untuk tidak memiliki anak, karena itu adalah keputusan pribadi yang patut dihormati.

-Febriyanti-

Mahasiswi Ilmu Komunikasi

FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>