BUKABUKU: Kearifan Lokal dan Suara Kritis dari Papua

image_BUKU_DUMMA_SS-YOMANVVV

gambar dikutip dari http://suarabaptis.org/news.php?

Judul Buku :
Kita Meminum Air dari Sumur Kita Sendiri
Penulis : Dumma Socratez Sofyan
Penerbit : Cendrawasih Press – Jayapura
Tahun Terbit : 2010
Tebal Buku : 244 halaman
Harga : Rp 40.000,00

Mentor saya pernah mengatakan bahwa jika kita dikritik, berarti si pengkritik itu perhatian dan peduli pada kita. Jika yang terlontar hanya pujian atau komentar bagus-bagus saja, mungkin lawan bicara kita itu kurang mencermati atau tidak begitu mengerti tentang diri maupun karya kita. Komentar standar, basa-basi, dan hafalan merupakan langkah yang aman untuk menjaga hubungan baik, tetapi hanya di tingkat permukaan.

Bisa juga, orang tidak berani mengkritik karena dibungkam atau karena keselamatan diri dan keluarganya terancam oleh pihak yang kepentingannya terganggu dengan kritik tersebut. Dengan begitu, butuh kepedulian dan keberanian yang besar untuk bersuara kritis, seperti yang ditunjukkan oleh penulis buku ini.

Melalui buku ini, penulis berusaha membangun kesadaran dan meningkatkan daya juang orang-orang asli Papua dengan menunjukkan bahwa mereka sebenarnya memiliki modal dasar. Modal itu adalah Agama Kristen dan kearifan budaya lokal. Bagian pertama dari buku ini berisi dasar-dasar teologis untuk memotivasi orang Papua agar lebih percaya diri dan berusaha lebih keras untuk berdiri di atas kaki sendiri (atau, dengan istilah penulisnya, ‘meminum air dari sumur sendiri’).

Bagian kedua berisi berbagai kekayaan dan kearifan budaya lokal Papua. Bagian ini sangat bermanfaat bagi pembaca yang ingin memahami adat-istiadat dan cara hidup asli orang Papua.

Bagian ketiga berisi kritik-kritik terhadap perlakuan Pemerintah Indonesia. Memang, ada kesan bahwa penulis mendukung pemisahan Papua dari Indonesia. Tetapi, bagi saya pribadi, inti dari apa yang ingin disampaikan penulis buku di bagian ini adalah menyampaikan fakta, dugaan, dan penilaian bahwa fakta dan dugaan tersebut adalah tidak adil dan terasa menindas bagi orang asli Papua.

Lalu, bagaimana solusinya? Menurut Sofyan, inilah solusinya:

“Di tempat kau berdiri, pandanglah dan lihat tanahmu, Papua.
Cintai, jaga, dan lindungi dia. Jangan jual dia. Jangan khianati dia.
Tanah Papua adalah Tanah Suci. Tanah Papua adalah Mama kita, rumah dan hidup kita, tabungan masa depan anak dan cucu kita.
Di atas Tanah Papua ini, Allah dan roh-roh leluhur kita ada bersama kita.”

Buku ini sangat dianjurkan bagi orang asli Papua, masyarakat pendatang di Papua, masyarakat Indonesia di luar Papua yang perhatian dan peduli pada nasib Papua, dan pejabat pemerintah yang tugasnya berkaitan dengan Papua. (Edward T.)

2 thoughts on “BUKABUKU: Kearifan Lokal dan Suara Kritis dari Papua

  1. agustinus wahyu

    Salam kenal,

    Saya ingin mendapatkan/membeli buku tersebut, bisa didapat diamana? terima-kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>