PERAN MEDIA SEBAGAI CORONG MASYARAKAT: belajar dari Koin Cinta Bilqis

bilqis2 dr media indns

Masih jelas teringat beberapa waktu yang lalu media memuat berita mengenai seorang balita penderita penyakit atresia bilier atau kegagalan fungsi saluran empedu hati, Bilqis Anindya Passa. Kasus ini mencuat ketika kedua orang tua Bilqis, Dewi Farida dan Donny Ardianta Passa berusaha menghimpun donasi untuk transplantasi hati melalui facebook. Meskipun kedua orang tua Biqis bukan keluarga yang tergolong miskin, namun biaya cangkok hati sebesar Rp 1 miliar tersebut terasa cukup berat. Belajar dari kasus Prita Mulyasari yang saat itu terjerat pasal UU Informasi dan Transaksi Elektronik, Dewi Farida bersama adiknya Fahrur Jehan Syatah pada tanggal 25 Januari timbul ide membuat akun facebook dengan nama “Koin Cinta Bilqis”. Hal ini ternyata ditanggapi oleh masyarakat secara luas dan sekaligus menjadi bentuk publikasi.

Kepopuleran Bilqis juga didongkrak oleh media masa yang kala itu gencar memberitakan hal ini. Berbagai aksi solidaritas kemanusiaan yang ditujukan pada Bilqis sungguh luar biasa. Kasus atresia bilier juga menyerang Melati atau Amel, bocah asal Medan berusia 4,8 tahun. Pada 5 April yang lalu, Amel menjalani operasi cangkok hati. Amel merupakan pasien kedua setelah Bilqis yang akan menjalani transplantasi di rumah sakit Dr. Kariadi, Semarang. Beberapa waktu lalu juga ada seorang pasien Ramdan Aldil Saputra yang menjalani transplantasi atau operasi cangkok hati di rumah sakit Dr. Soetomo, Surabaya. Ramdan mendapat donor hati dari ibu kandungnya sendiri.

Pada tanggal 8 Februari 2010, penulis berkesempatan melakukan wawancara dengan dr. Hanifah Oswari Sp.A (K), dokter yang sempat menangani Bilqis selama di Jakarta dan sebelum dipindahkan ke RS Dr. Kariadi, Semarang. Namun, ketika ditemui siang itu, dr. Hanifah sedang tidak ada di tempat. Kemudian penulis mewawancarai Lamtorogung Prayitno (25) peneliti biologi molekuler RS Cipto Mangunkusumo yang saat itu berada di ruangan dan bertindak sebagai partner dari dr. Hanifah. Dia menyatakan, sebagian besar penderita atresia bilier yang dirawat di RSCM berasal dari kalangan keluarga menengah ke bawah. Orang tua bayi biasanya tidak menyadari gejala awal dari atresia bilier karena dianggap sebagai gejala biasa, seperti tubuh menguning. Jika lebih dari dua minggu tubuh bayi berwarna kuning, maka ada dugaan bayi tersebut mengarah pada gejala kelainan hati.

Penulis menjumpai bahwa tidak semua yang dirawat tersebut menderita penyakit atresia bilier. Namun, penyakit atresia bilier bukanlah penyakit yang langka. Di bagian sal anak ada penyakit kolestastis-atau gangguan disfungsi transport asam empedu.

Jumlah bayi yang menjalani operasi cangkok hati tentu masih sedikit dibanding dengan pasien yang harus pasrah karena tidak memiliki uang dan tidak tahu bagaimana cara menghimpun dana. Selain masalah biaya, proses transplantasi hati yang cenderung rumit menjadi permasalahan tersendiri karena harus menunggu donor hati yang cocok. Jika tidak sesuai, maka akan terjadi penolakan. Mereka yang tidak tertolong akhirnya meninggal dunia. Saat ini juga belum ada yayasan khusus yang menangani bocah penderita atresia bilier. Yayasan semacam ini tentu akan sangat membantu, agar penanganan di masa mendatang dapat segera teratasi, dan semakin sedikit bayi-bayi penderitanya yang meninggal. Sebagaimana yang terjadi pada Bilqis.

Sampai saat ini, pihak rumah sakit belum bisa memastikan penyebab atresia bilier. Dugaan awal dikarenakan oleh virus dan faktor genetik. Hati adalah organ tubuh yang vital karena berfungsi sebagai penawar racun. Jika hati mengalami kerusakan, maka tubuh akan rentan terhadap penyakit.

Sebenarnya penyakit atresia bilier atau tidak berfungsinya saluran empedu bukanlah penyakit yang langka, hanya saja penyakit tersebut membutuhkan biaya yang besar untuk proses penyembuhannya melalui jalan operasi.

Jurnalis: Agen Perubahan

Dari realitas yang terjadi, marilah kita melihat bagaimana kasus ini dilihat dari sisi psikologis. Ditemui di sela-sela kesibukannya, Direktur PT Personal Growth, Ratih Ibrahim, menjawab beberapa pertanyaan dari penulis. PT Personal Growth berlokasi di Jalan H. Rausin 47, Kelapa Dua, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Ratih Ibrahim diwawancarai via email karena waktu itu kondisi tidak memungkinkan dan penulis terjebak macet. Wawancara via email dimulai pukul 20.00 WIB.

Awalnya Ibu Ratih memberikan penjelasan perihal keberadaan media yang memblow-up kasus Bilqis. “Bagaimanapun “nasib” seseorang menentukan banyak hal, entah kita akan menganggapnya sebagai adil atau tidak. Membandingkan nasib orang yang mampu secara finansial maupun tidak, juga belum tentu adil,” tandasnya.

Kita tidak tahu bagaimana pergumulan yang terjadi di dalam kehidupan masing-masing orang. Dan sebagai penonton, apapun pendapat kita, kita ini penonton. Beruntung sekali keluarga Bilqis atas “keberuntungannya” bisa mendapatkan pertolongan, juga dalam bentuk social support (dukungan sosial-red) berupa simpati masyarakat.

Lantas, bagaimana dengan yang tidak mendapatkan pertolongan? Tentunya kita tahu mereka tidak seberuntung Bilqis. Namun dengan diangkatnya kisah Bilqis, paling tidak masyarakat lebih peka pada isu ini. Dan, jurnalis sangat berperan di sini, termasuk dalam menghimbau rumah sakit, profesional, maupun pemerintah untuk memberikan perhatian kepada masalah terkait, kepada penderita, maupun keluarganya. Itu juga yang dilakukan para aktivis yang memperjuangkan hak dan kepentingan penderita thalasemia, kanker-beraneka kanker, HIV/AIDS, autisma, down syndrome, dan banyak masalah lain, dengan membentuk asosiasi, serta berbagai kegiatan penyadaran masyarakat maupun penggalangan dana.

Peran media besar sekali dalam hal ini. Sebagai jurnalis berharap, apa yang ditulis, menyentuh hidup orang banyak. Seorang jurnalis memiliki tanggung jawab moral, baik ke diri sendiri, ke masyarakat dan ke Tuhan untuk bertanggungjawab atas apa yang ditulis. Oleh karena pena bisa digunakan untuk membangun masyarakat, dan menolong banyak kehidupan. Akan tetapi, penggunaan yang keliru, serta penghayatan yang salah kaprah atas profesionalitas sebagai jurnalis, juga bisa menghancurkan kehidupan.

Sehingga, meskipun Ibu Ratih bukan orang pemerintah, namun sebagai profesional independen, dia berpendapat bahwa fenomena masyarakat yang membludak memberikan uluran tangan berupa penggalangan dana untuk Bilqis adalah gambaran masyarakat yang peduli. Namun, dia berpendapat bahwa pemerintah tentu tidak boleh menutup mata terhadap permasalahan ini. Bukan berarti pemerintah acuh dan tidak peduli. Pemerintah juga telah menyediakan layanan Gakin dan Jamkesmas bagi pasien yang tidak mampu, walaupun hal itu tidak banyak membantu terutama ketika pasien menghendaki jalan operasi yang biayanya cukup besar.

Perlu diperbaiki agar lebih obyektif dan tidak membuat penilaian yang keliru. Ibu Ratih justru memandang gerakan-gerakan kepedulian masyarakat tersebut sebagai sebuah kesadaran, bahwa sebagai bagian dari masyarakat kita perlu dan bisa untuk secara proaktif bersikap, dan tidak semata menunggu uluran tangan pemerintah, yang jelas punya banyak keterbatasan. Melalui media dan peran jurnalis, semoga memang bisa menjadi agen perubahan dalam masyarakat terutama untuk mengarah pada hal yang positif dan berguna.

* Terinspirasi Artikel “Koin Kehidupan Untuk Bilqis” dari Kompas, 5 Februari 2010, sekaligus pengalaman magang sebagai wartawan desk Metropolitan di SKH KOMPAS.

** Gambar dikutip dari  http://www.mediaindonesia.com/read/2010/04/11/135195/124/101/Tiga-Bakteri-Ganas-Serang-Bilqis-

Fransiska Ria Aninda

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>