CATATAN RELAWAN: Sumber Belajar tak harus mahal kan?

Apa yang dilakukan relawan di/bersama ICBC?

ICBC memberikan ruang yang luas bagi relawannya untuk memilih area keterlibatan sesuai minat dan potensi masing-masing. Artikel berikut adalah salah satu pengalaman lapangan yang dituliskan oleh Kartika Wijayanti, relawan ICBC dari bagian Kajian Pengembangan Anak.

—————————————————————————————————————–

Senangnya bisa berbagi. Demikian yang saya rasakan ketika diminta mengisi acara pertemuan guru-guru TK di Wukirsari tanggal 4 Agustus kemarin, bersama Mbak Ganis. Kami mewakili Program Kesehatan Psikososial Anak ICBC, waktu itu diminta saling berbagi pengalaman mengenai alat permainan edukatif (APE) berbahan dasar lokal. Jujur saja, saya sangat senang. Berbagi pengalaman dengan guru-guru TK pula. Dalam kepala saya terbayang, saya bicara dengan guru-guru tersebut mengenai sesuatu yang saya geluti, dan tentu saja yang mereka geluti setiap hari.

Maka, mengalirlah berbagi pengalaman siang itu. Dengan lancar, ibu-ibu itu menjelaskan kepada saya dan Mbak Ganis, mengenai apa sih APE, apa fungsinya, dan apa yang biasanya dilakukan ibu-ibu guru tersebut di kelas sebagai materi ajar? Banyak sekali pertanyaan yang bisa mereka jawab.

Segala pikiran yang ada di benak saya, yang hendak saya sampaikan kepada mereka, buyar sudah. Saya membayangkan mereka harus diberi pengertian sedari awal mengenai APE, akan tetapi kenyataan bicara lai.? Ternyata, bayangan tinggal bayangan. Di sana, saya terbengong-bengong. Guru-guru tersebut —yang sebagian besar adalah perempuan— ternyata memahami dengan baik mengenai APE berbahan lokal tersebut. Banyak di antara mereka yang mampu menguraikan dengan runtut mengenai APE, dan kebanyakan dari mereka sudah memahami mengenai APE berbahan lokal. Wow, saya salut dengan itu. Saya yang dibuat terlongong-longong, separuh tidak pede. Tapi mungkin karena itu, saya malah jadi lebih bebas dan santai berbagi dengan mereka.

kudakudaanMenurut saya, ibu-ibu tersebut beruntung mengajar di daerah seperti Cangkringan. Kenapa? Karena mereka memiliki banyak sekali sumber belajar dengan basis alam pedesaan, lengkap. Sumber belajar yang mereka miliki, bisa jadi membuat banyak guru-guru di kota semacam saya, iri setengah mati. Bagaimana tidak? Lihat, di sana ada gunung, sawah, banyak binatang ternak yang bisa dieksplorasi seluas-luasnya. Sedangkan saya dan banyak guru lain di kota, tidak mendapati kemewahan semacam itu. Kami, hanya bisa menghadirkan sapi dan gunung melalui gambar. Sawah, hanya bisa dijumpai oleh anak-anak kami jika kebetulan kami mengadakan field trip “sok turun ke alam”, dengan membayar sejumlah biaya tertentu. Dan, tentu tidak murah.

Dengan “kemewahan” tersebut, menurut saya, guru-guru di TK yang ada di daerah seperti Cangkringan malah bisa dengan bebas berkreasi memanfaatkan alam sekitarnya tersebut. Mengajak anak turun ke sawah, berkebun, main lumpur sepuasnya. Di sini, titik utamanya adalah kreativitas dari masing-masing guru; kemampuan untuk bereksplorasi dan ingin tahu yang secara terus menerus dipupuk. Itu adalah kunci utama untuk menciptakan pembelajaran yang sangat menyenangkan.

Kemampuan eksplorasi dan kreativitas itu bisa terwujud melalui berbagai macam hal. Membuat mainan sendiri misalnya. Kardus bekas, daun-daunan, ranting, tanah, kayu, pohon, saya, anda; semuanya bisa menjadi alat permainan yang sangat mendidik, murah meriah pula. Selain murah meriah, tujuan ke depan, yang jauh lebih besar adalah mengajak dan mendidik anak untuk mencintai lingkungan. Tarikan lebih muluk lagi adalah bersahabat dengan alam. Konsep sumber belajar berbasiskan bahan lokal sebenarnya memang memiliki tujuan semacam itu,  bukan?

Hanya saja, saya merasa ibu-ibu tersebut tidak terlalu memahami dan menghidupi “kemewahan” sumber belajar yang mereka miliki. Entahlah, itu hanya perasaan yang saya melihat reaksi mereka yang cukup datar ketika saya dengan semangat membara menjelaskan kepada mereka mengenai “kemewahan” yang mereka miliki. Dan, betapa saya iri dengan hal itu.

Diskusi dan berbagi pengalaman siang itu ditutup dengan praktek membuat APE. Kebetulan saya memiliki beberapa contoh APE buatan sendiri ini. Hari itu, saya membawa sesuatu yang saya sebut sebagai kartu domino warna. Bahan dasar yang dibutuhkan untuk APE ini adalah kardus bekas susu, krayon, gunting, pensil, dan penggaris. Tentunya empat benda yang disebutkan di belakang, tidak terlalu asing bagi para guru bukan? Karena sebagai guru KB dan TK, pasti alat-alat tersebut sangat sering digunakan.

Kartu domino warna ini merupakan bahan bermain yang sangat menyenangkan. Bermain warna primer, konsep bentuk, dan konsep permainan merupakan hal-hal yang memang disasar oleh permainan ini. untuk anak TK, tingkat kesulitannya bisa ditambah dengan konsep jumlah.

Lucu sekali melihat ibu-ibu ini berkutat dengan kardus dan krayon seperti itu. Saya bisa melihat antusiasme dari beberapa ibu, tapi saya juga melihat keengganan dari beberapa ibu yang lain. Mungkin mereka enggan karena permainan seperti ini dianggap menguras energi untuk membuatnya. Atau, kenapa harus susah-susah membuat mainan seperti ini? Beli saja ‘kan bisa? Hmm.. sekali lagi itu sesuatu dalam kepala saya.

Hari itu, saya mendapatkan sesuatu yang sangat berguna. Saya juga berharap, saya mampu memberikan sesuatu yang berguna untuk mereka juga. Senangnya.

Dalam perjalanan pulang, di kepala saya terlintas sebuah pikiran: bagaimana kalau forum diskusi seperti ini lebih sering diadakan, mengenai tumbuh kembang anak misalnya. Saya, sekali lagi, merasa mereka membutuhkannya. (Kartika Wijayanti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>